TAFSIR YAASIN AYAT 13-29

QS. Yaasin ayat 13-19
QS. Yaasin ayat 20-23
QS. Yaasin ayat 25-29

Ayat ini mengkisahkan tentang sebuah peristiwa yang terjadi pada penduduk Inthokia yaitu sebuah kota di negara Yunani. Ketika Nabi Isa AS mengutus dua orang muridnya untuk berdakwah ke negeri tersebut, dalam perjalanannya mereka bertemu dengan lelaki tua buta yang bernama Habib Annajar. Dikatakan dia adalah seorang pengembala kambing dan seorang pedagang di pasar. Maka kedua utusan Nabi Isa As tersebut mengajak Habib untuk masuk islam. Utusan itu berkata, “Kami mengajakmu dari menyembah patung untuk berganti menyembah Allah SWT semata.” Maka Habib berkata, “Apakah kamu membawa bukti/mukjizat?”. Utusan itu berkata, ” Ya, kami bisa menyembuhkan penyakit, menyembuhkan orang buta, penyakit kusta bahkan kami bisa menghidupkan orang mati atas izin Allah SWT.” Maka kedua utusan itu mengusap mata Habib, seketika habib dapat melihat dan Habib pun beriman. Tak selang beberapa lama berita tentang kedua orang ini menyebar bahkan sampai kepada sang raja yang bernama Afthikhis, yaitu seorang raja besar yang menyembah berhala. Kedua utusan inipun dipanggil dan dihadapkan kepada sang raja.

Rajapun bertanya, “Siapakah kalian?. Mereka menjawab,” Kami berdua adalah utusan Nabi Isa As yang diperintahkan untuk mengajak kamu semua meninggalkan menyembah berhala yang tidak bisa mendengar dan tidak bisa melihat serta mengajakmu untuk menyembah Allah Zat yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” Raja itu berkata, “Apakah ada tuhan selain tuhan-tuhan kami?” Utusan itu menjawab, “Ya, Dialah Allah yang menciptakanmu.” Maka raja itu berkata, “ Apakah kamu membawa bukti?” Utusan itu berkata, “Kami membawa Mukjizat yaitu bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, bahkan penyakit kusta. Kami juga bisa menyembuhkan orang buta sejak lahir dan kami bisa menghidupkan orang mati, semua itu atas izin Allah SWT.” Kemudian manusia mengikutinya, menangkap keduanya, memukulnya dan memenjarakannya.

Kemudian Nabi Isa As mengutus utusan yang ketiga yang bernama Syam’un yang merupakan ketua dari kaum Hawariyyin (pengikut Nabi Isa As yang setia). Syam’un datang ke Inthokia bahkan dia menyamar menjadi prajurit dan berhasil menjadi orang kepercayaan sang raja. Suatu ketika Syam’un berkata kepada sang raja, “Wahai memenjarakan dua orang utusan?”. Raja menjawab, “Ya”. Syam’untuan, apakah tuan berkata, “Mengapa mereka dipenjara?”. Raja menjawab, “Karena mereka mengajak menyembah kepada selain tuhan-tuhan kami dan melarang manusia untuk menyembah tuhan-tuhan kami.” Syam’un berkata, “Apakah mereka mengatakan membawa bukti/mukjizat?”. Raja menjawab, “Ya.” Syam’un berkata, “Apakah membuktikan mukjizatnya?” tidak sebaiknya mereka berdua kita kasih kesempatan.

Akhirnya sang raja mengumpulkan rakyatnya dan memanggil kedua utusan tersebut. Sang raja berkata, “Sesungguhnya aku memiliki anak perempuan yang telah meninggal, maka hidupkanlah anakku yang telah meninggal itu.” Kemudian kedua utusan itu berdoa kepada Allah SWT dan Syam’un pun berdoa di dalam hatinya, maka Allah SWT membangkitkan kembali anak sang raja sehingga terbelahlah kuburannya dan keluarlah anak itu. Anak itupun berkata, “Berimanlah kalian semua kepada kedua utusan ini karena mereka berdua adalah benar.” Maka berkatalah sang raja kepada anaknya, “Bagaimana keadaanmu di akhirat?” Anak itu menjawab, “Aku telah menjalani kematian selama tujuh hari. Selama itu diperlihatkan kepada-Ku seluruh amal perbuatanku, maka aku mendapati diriku sebagai orang kafir, setelah itu aku disiksa setiap hari di dalam neraka, dimana setiap hari itu tidak ada siksaan yang sama, di hari yang ketujuh datanglah mereka bertiga membawa ruhku ke dalam jasadku, mereka berkata, “lihatlah keatas,” Maka aku melihat pintu-pintu langit terbuka dan aku melihat seorang laki-laki yang sangat tampan yang menjulurkan tangannya dan menolong ketiga orang ini.” Maka raja berkata, “Siapa ketiga orang itu?” Anak itu menjawab, “Pemuda ini (menunjuk ke Syam’un) dan kedua orang itu (menunjuk ke kedua orang utusan).” Anak itu berkata, ”Wahai ayahku, ketiga orang ini telah membawa aku ke dalam jasadku dan telah mengeluarkan aku dari neraka, ketika aku membuka kedua mataku, aku telah berada di tempat ini.” Kemudian anak itu meminta kepada kedua orang utusan itu untuk mengembalikannya ke kembali ke alam kuburnya.

Dikisahkan bahwa setelah peristiwa ini raja tetap tidak beriman dan tetap dalam kekafirannya, bahkan menuduh para utusan sebagai tukang bohong dan penipu, sehingga para utusan itu diusir. Mereka berkata, “Kamu semua hanyalah manusia biasa seperti kami, Tuhan yang Maha Penyayang tidak menurunkan apapun kepadamu, dan kamu semua tidak lain hanyalah para pembohong.” Para utusan itu berkata, “Tuhan kami mengetahui bahwa kami adalah para utusan, kewajiban kami hanyalah menyampaikan dakwah dengan jelas.”

Setelah pengusiran itu negeri Inthokia dilanda berbagai macam musibah seperti penyakit, wabah, gagal panen dan kekeringan yang panjang. Padahal sebelumnya peristiwa musibah seperti itu belum pernah terjadi di daerah itu. Akhirnya masyarakat mencari ketiga utusan itu dan menagkapnya. Mereka berkata, “Kejelekan yang menimpa kami disebabkan oleh kesalahanmu, karena di daerah kami ini sebelumnya belum pernah terjadi musibah seperti ini. Hujan tidak turun dan banyak penyakit bermunculan, padahal semua ini tidak pernah terjadi sebelum kedatangan kalian. Jika kalian tidak berhenti berdakwah maka kami pasti akan merajang kalian dan menyiksa kalian dengan siksaan yang pedih.” Para utusan itu menjawab, “Kejelekan yang menimpa kamu semua itu karena kesalahanmu semua bukan karena dakwah kami, bahkan kamu semua termasuk orang-orang yang melampaui batas.” Masyarakatpun menjadi marah dan berusaha untuk menangkap serta membunuh ketiga utusan itu. Kemudian ketiga utusan itu berlari meninggalkan kota Inthokia.

Sementara itu Habib Annajar setelah beriman dia tetap menyembunyikan keimanannya dan dia sering beribadah di dalam goa. Ketika Habib mendengar bahwa masyarakat Inthokia mau menangkap dan membunuh ketiga utusan, Habibpun bergegas menuju ke kota Inthokia. Ketika dia memasuki gerbang kota dia melihat masyarakat yang hendak menangkap dan membunuh ketiga utusan tersebut. Habibpun berteriak, “Wahai masyarakatku, ikutilah ketiga utusan itu. Ikutilah orang yang tidak meminta upah kepadamu dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Maka kemarahan penduduk Inthokia pun tertuju kepada Habib. Mereka berkata, “Apakah kamu telah berkhianat kepada agama kami dan memilih agama para utusan itu?” Habib berkata, “Apakah aku memiliki alasan untuk tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan kepada-Nya kamu semua akan dikembalikan?’ maka seketika itu juga Habib ditangkap dan dihadapkan kepada sang raja. Rajapun berkata kepada Habib, “Apakah kamu telah mengikuti para utusan itu?” Habib berkata, “Apakah pantas bagiku menjadikan Tuhan selain Allah? Jika Allah yang Maha Penyayang menghendaki bahaya menimpaku maka tidak ada pertolongan apapun yang bermanfaat bagiku dan tidak akan ada seorangpun yang bisa menyelamatkanku.”

Mereka berkata, “Hai Habib, para utusan itu telah mencegahmu untuk mengikuti agama nenek moyangmu, maka keluarlah dari agama para utusan itu. Jika tidak, maka kami akan membunuhmu dan menyiksamu dengan siksaan yang pedih.” Habib berkata, ”Jika aku keluar dari agama para utusan itu dan kembali kepada agama kamu semua, sesungguhnya aku termasuk orang yang sesat, karena agama kamu semua adalah agama yang sesat dan agama parautusan itu adalah yang benar. Hai para Rasul, aku telah beriman kepada Tuhanmu maka dengarkanlah aku”. Maka ketika penduduk Inthokia telah mendengar ucapan Habib, mereka menangkap Habib, mengikat lehernya dengan rantai dan menyalibnya di depan gerbang kota. Meraka kemudian melempari dengan batu. Ketika mendapat siksaan itu Habib berteriak, “Ya Allah berilah petunjuk kepada masyarakatku”. Demikianlah sifat kekasih Allah yang tidak pernah memendam rasa benci kepada sesama, tetapi justru selalu mengharapkan agar masyarakatnya menjadi baik, demikianlah Habib. Ketika siksaan demi siksaan yang sangat pedih itu menimpanya dan ajal hampir tiba, maka Allah membukakan mata hati Habib dan Allah memperlihatkan berbagai keindahan surga kepada Habib, sehinga Habib merasa sangat senang dan tidak lagi merasa sakit akan siksaan yang pedih itu. Seperti halnya para wanita yang mengiris tangannya dan tidak merasa sakit karena melihat betapa tampannya Nabi Yusuf AS, itulah keindahan yang luar biasa mampu menghilangkan rasa sakit yang sangat pedih. Maka ketika Habib kembali tersadar dan melihat kaumnya masih menyiksanya, Habibpun berkata, “Wahai seandainya masyarakatku mengetahui terhadap pengampunan Tuhan kepada-Ku dan menjadikanku termasuk golongan  yang dimulyakan Allah dengan surga”

Maka ketika Habib telah wafat, Allah pun sangat murka terhadap penduduk Inthokia, kemudian Allah mengutus malaikat Jibril AS untuk menghancurkan kota Inthokia. Jibrilpun segera menuju ke kota Inthokia dan berdiri di depan gerbang kota tersebut. Dengan sekali teriakan sambil mengangkat ke dua ujung kota tersebut maka bergetarlah seluruh penjuru Inthokia dengan getaran yang sangat dasyat dan seluruh penduduk kotapun binasa, itulah makna dari firman Allah SWT.

    Leave Your Comment Here