MUTIARA NASEHAT-AL QUR’AN HADIST BAB 3 & 4

KEKUATAN IMAN DAN BERSUNGGUH-SUNGGUH DI JALAN ALLAH

Sayyid Abdullah Alawi berkata “ wahai saudaraku kuatkanlah keyakinan dan perbaikilah keyakinan mu itu”, kuatnya keyakinan itu ibarat dari kuatnya iman yang meresap dan mendalam sampai kehati sehingga iman itu laksana karang yang tinggi lagi kokoh sehingga tidak akan bisa digoyahkan dengan berbagai keraguan. Sehingga lenyaplah keraguan itu dan tidak ada lagi celah bagi syaitan untuk memasukinya.Seperti keistimewaan Sayyidina Umar Ibnu Khotob yang karena kuatnya iman sampai-sampai syaitanpun takut kepadanya. Sedangkan keyakinan yang kuat itu karena ada beberapa sebab, yaitu:

  1. Keyakinan yang masuk ke dalam hatinya karena ia mendengar ayat-ayat Allah dan hadist Nabi yang menunjukkan kepada ke agungan Allah, kebesarana Allah dan kesempurnaan- Nya, dalam ayat-ayat Al Qur’an juga dijelaskan sifat-sifat Allah yang Maha Perkasa, yang memiliki kekuasaan yang tidak membutuhkan kepada mahlukNya dsb. (sehingga manusia menjadi yakin bahwa sifat-sifat Allah sebagai Tuhan mereka tidaklah sama dengan sifat tuhan-tuhan palsu itu) dan manusia menjadi yakin dan mantap keimanannya karena mengetahui tentang kesempurnaan akhlaq Rosulullah sebagai pembawa pesan dari Allah. Beliau memiliki sifat-sifat yang terpuji seperti jujur, amanah, fatonah, dan tabligh, serta beliau membawa berbagai mu’jizat dari Allah SWT.
  2. Dengan melihat tanda-tanda kebesaran Allah baik yang dilangit maupun yang dibumi bahkan yang ada di dalam tubuh kita, sebab di dalam itu semua ada keajaiban dan keindahan ciptaan Allah SWT. Sehingga tumbuhlah keyakinan dalam hati bahwa hanyalah Allah yang pantas disembah karena hanyalah Allah yang menjadi Tuhannya semesta alam.
  3. Dengan bersungguh-sungguh mengamalkan apa yang diimani itu baik dengan anggota badan zhohir kita maupun dengan batin kita. Buah dari yakin itu adalah merasa tenang dan mantap dengan apa yang dijanjikan Allah SWT dan selalu bergantung terhadap jaminan Allah SWT sehingga dia lebih fokus dan semangat dalam beribadah kepada Allah dan tidak tergantung dengan apa-apa yang membuat kita lupa kepada Allah dengan selalu mengembalikan apapun yang terjadi kepada Allah dan bersemangat meraih keridhoan Allah dengan berbagai amal sholih dan akhlaq yang terpuji adalah buahnya iman, dan semuanya tergantung pada tingkat keyakinan karena yakin adalah pohon dari keimanan.

Lukman Al Hakim berkata “ Seseorang tidak akan beramal kecuali dengan yakin dan amal seseorang hamba itu tergantung pada tingkat keyakinannya, apabila keyakinannya melemah maka melemah pula amalannya.”

KEUTAMAAN MEMPERBAIKI NIAT

Sayyid Abdullah bin Alawi berkata “ Wahai saudaraku perbaikilah niat, ikhlaskanlah niat, bersihkanlah niat dan fikirkanlah niatmu sebelum engkau beramal karena niat adalah pokok dari sebuah perbuatan. Ketahuilah tidaklah menjadi baik suatu ibadah kepada Allah kecuali apabila sesuai dengan tuntunan yang disariatkan oleh Allah lewat ajaran yang diajarkan oleh Rosulullah SAW baik itu amalan wajib maupun amalan sunah bahkan amalan mubah yang dilakukan dengan niat yang baik itu akan tercatat sebagai sebuah kebaikan.

Contoh :

  1. Orang yang mencari ilmu dengan niat yang baik dan bersungguh-sungguh akan mengamalkan ilmunya serta akan menyebarkan ilmunya maka ia terhitung sebagai “pencari ilmu”, sedangkan apabila ia tidak mengamalkan ilmunya sedangkan ia mampu mengamalkannya maka ia termasuk orang yang “belum benar niatnya” sedangkan apabila ia berniat mencari ilmu hanya untuk mencari kekayaan dan kesenangan duniawi makaia termasuk orang yang diancam oleh Rosulullah “termasuk golongan orang yang tidak bisa mencium bau surga”.
  2. Orang yang berbuat sesuatu yang mubah tetapi dengan niat yang baik seperti makan supaya bisa kuat beribadah atau bekerja untuk menafkahi anak istri dengan rizki yang halal maka itu akan tercatat sebagai sebuah kebaikan selama tidak melanggar ketentuan-ketentuan Allah SWT.
  3. Apabila seorang yang bekerja mencari dunia dengan niat supaya dia tercukupi kebutuhannya atau supaya tidak meminta-minta atau supaya ia bisa bersodaqoh, menolong orang, menyambung persaudaraan kemudian ia membuktikannya maka bekerjanya merupakan sebuah kebaikan tetapi apabila ia tidak membuktikannya maka pasti “ada yang tidak benar dari niatnya”.

Seseorang yang berniat baik pada perbuatan yang tercela maka itu termasuk “amalan dosa” karena niat itu tidak ada pengaruhnya pada perbuatan maksiat seperti halnya orang yang bersuci menggunakan air yang najis maka niat bersuci ini tidaklah berguna, yang ada hanyalah bertambah najis barang yang disucikan dengan air yang najis itu.

Wahai saudara ku ketahuilah satu perbuatan dengan banyak niat yang baik maka bagi orang itu dari setiap niatnya dicatat dengan satu kebaikan yang sempurna.

Contoh : Seseorang yang membaca Al Qur’an dengan niat untuk bermunajat kepada Allah SWT maka orang itu benar-benar sedang bermunajat kepada Allah. Kemudian ia sertakan dengan niat baik lainnya seperti untuk mengajarkan ilmu dari Al Qur’an, memberi manfaat bagi pendengarnya atau niat baik lainnya maka dalam sekali membaca Al Qur’an ia mendapatkan beberapa pahala kebaikan dari beberapa niat baiknya tersebut.

    Leave Your Comment Here