Menyampaikan Informasi Dalam Bentuk Berita #4 – Bahasa Indonesia 8

Menulis berita bukan sekadar mencurahkan isi hati. Sebuah berita harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, aktual, dan informatif. Dalam penulisan berita disajikan dalam bentuk piramida terbalik. Bentuk piramida terbalik dilakukan seorang wartawan agar pembaca berita dapat segera mengetahui inti berita yang ingin diketahuinya. Informasi-informasi penting (inti) disajikan di awal paragraf, selanjutnya informasi pendukung mengikuti paragraf berikutnya.

A. LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN/ MENULIS BERITA

  1. Menentukan sumber berita, yakni berupa peristiwa yang menarik dan menyangkut kepentingan banyak orang (observasi lingkungan).
  2. Mendatangi sumber berita, yakni dengan mengamati langsung dan mewawancarai orang-orang yang berhubungan dengan peristiwa itu.
  3. Mencatat fakta-fakta dengan berkerangka pada pola ADiKSiMBa (Apa, Dimana, Kapan, Siapa, Mengapa, Bagaimana)/ 5W+1H
  4. Menyusun kepala berita yang memuat 3-5 W
  5. Menyusun tubuh berita yang memuat 1H
  6. Menyusun ekor berita berupa tambahan informasi tidak terkait judul.
  7. Mengedit teks berita yang ditulis dengan memperhatikan struktur dan kebahasaannya menjadi sebuah teks berita yang utuh, yang disajikan mulai dari bagian yang penting ke bagian yang kurang penting (piramida terbalik).

B. PENYUNTINGAN BERITA

Penyuntingan berita dilakukan apabila jika masih ditemukan beberapa kekeliruan dari berita yang telah dibuat sebelum berita tersebut dipublikasikan.  Beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam tahapan penyuntingan ini adalah sebagai berikut.

  1. Kebenaran isi berita, yakni keakuratan fakta-fakta.
  2. Kelengkapan isi berita, yakni ditandai adanya komponen berita yang terumus dalam ADiKSiMBa/ 5W+1H
  3. Struktur penyusunan berita, yakni dimulai dari bagian yang penting ke bagian yang kurang penting (piramida terbalik).
  4. Penggunaan bahasa, yakni terkait dengan keefektifan kalimat, kebakuan kata, dan ketepatan ejaan dan tanda baca.

C. SIFAT BAHASA JURNALISTIK

Menurut JS Badudu (1998) bahasa jurnalistik mempunyai sifat khas, diantaranya:

  1. Singkat, artinya bahasa jurnalistik harus menghindari penjelasan yang panjang dan bertele-tele.
  2. Padat, artinya bahasa jurnalistik mampu menyampaikan informasi lengkap (5W+1H), membuang kata-kata mubadzir.
  3. Sederhana, artinya kalimat dalam ragam jurnalistik sebisa mungkin menggunakan kalimat tunggal dan sederhana.
  4. Lugas, artinya bahasa jurnalistik mampu menyampaikan informasi langsung, hindari kalimat yang menggunakan bunga-bunga bahasa.
  5. Menarik, artinya menggunakan pilihan kata yang masih hidup, tumbuh, dan berkembang.
  6. Lancar dan jelas, artinya informasi yang disampaikan jurnalis dengan mudah dapat diikuti pembaca, struktur kalimat tidak menimbulkan ambiguitas/ makna ganda.

D. CONTOH PENULISAN BERITA

Lembaga xxxxxxxxxxxxx menyelenggarakan Seminar xxxxxxxxxx Sabtu (22/8/2020) di Ruang Auditorium xxxxxxx Temanggung. (Kepala berita)

Seminar tersebut dihadiri xxxxxxxxxx dan diikuti xxxxxxxxx peserta. xxxxxxxx (Tubuh berita)

Dr. Tadkiroatun Musfiroh selaku narasumber merupakan dosen Universitas Negeri Yogyakarta. xxxxxxxxxx (ekor berita).

E. TEKNIK MEMBACAKAN BERITA

  1. Lafal

Lafal adalah suatu cara seseorang atau sekelompok orang dalam mengucapkan bunyi bahasa.

2. Tekanan/ nada

Tekanan atau nada adalah tinggi rendahnya pengucapan suatu kata. Dalam hal ini nada berfungsi untuk memberi tekanan khusus pada kata-kata tertentu.

3. Intonasi

Intonasi adalah naik turunnya lagu kalimat. Intonasi berfungsi sebagai pembentuk makna kalimat.

4. Jeda

Jeda adalah perhentian lagu kalimat. Jeda terbagi ke dalam 3 jenis, yaitu sebagai berikut.

a. Jeda panjang (.) titik

b. Jeda sedang (,) koma

c. Jeda pendek (-) spasi

5. Volume

Volume suara adalah takaran perlahan atau kerasnya suara yang dikeluarkan.

6. Tempo

Tempo adalah lambat atau cepatnya pembacaan sebuah berita.


DAFTAR PUSTAKA

E. Kosasih. 2017. Bahasa Indonesia. Jakarta: Kemendikbud.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Buku Guru Bahasa

Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Permendiknas No. 50  Tahun 2015. Pedoman Umum Ejaan yang

Disempurnakan

S.S, Haryati, Dahuri, 2019. Buku Pendamping Siswa Bahasa Indonesia Untuk

SMP/ MTs Kelas VIII. Temanggung: Tim MGMP.

Leave Your Comment Here